Senin, 27 April 2009

DONGENG MASYARAKAT TORAYA ( I )

Bulu Pala’

Dahulu di Toraya hiduplah sebuah keluarga yang terdiri dari pasangan suami isteri dan kedua putranya. Putra kudua dari pasangan ini bernama Bulu Pala’ yang dalam bahasa Toraya berarti Telapak Tangan Berambut. Bulu Pala’ sesuai dengan namanya memiliki keunikan, yaitu pada telapak tangannya tumbuh rambut yang lebat.
Rumah Bulu Pala’ terletak di tepi jalan yang banyak dilalui orang apabila hari pasar tiba. Pasar terletak hanya sekitar satu kilometer dari rumah Bulu Pala’.Pasar di Toraya hanya terletak pada daerah-daerah tertentu dan setiap pasar memilki hari pasar yang telah ditentukan, yaitu enam hari terhitung dari hari pasar sebelumnya.
Pada suatu hari pasar, Bulu Pala’ sedang bermain dengan kakaknya di pinggir jalan di depan rumahnya. Seorang yang lewat di jalan itu melihat mereka bermain dan tidak sengaja melihat telapak tangan Bulu Pala’ yang unik. Dia memanggil anak itu dan meminta izin melihat tangannya.
Ketika dia melihat telapak tangan Bulu Pala’, dia meramalkan bahwa anak itu akan menjadi anak yang berhasil. Kakak Bulu Pala’ yang ada di situ mendengarkan ramalan itu dan hanya diam, dia tidak percaya dan menganggap itu hanyalah sebuah ramalan tak berarti.
Hari pasar berikutnya, seorang asing yang lain kembali melihat Bulu Pala’. Orang itu juga meramalkan keberhasilan Bulu Pala’. Dan begitu pula pada hari pasar berikutnya. Kakak Bulu Pala’ yang telah berkali-kali mendengar ramalan itu menjadi iri akan nasib Bulu Pala’ dan melaporkan kepada ayahnya.
Dia membalikkan ramalan orang-orang asing yang telah meramal Bulu Pala’. Dia meyakinkan ayahnya bahwa telah ada 3 orang asing yang lewat pada hari pasar dan meramalkan bahwa Bulu Pala’ akan menjadi malapetaka bagi keluarganya. Ayahnya terhasut dan kemudian merencanakan untuk membunuh Bulu Pala’. Pembunuhan yang nampak alami sehingga tidak menghebohkan masyarakat.
Keesokan harinya, Bulu Pala’ diajak ayahnya untuk mandi di sungai. Bulu Pala’ sangat senang mendengarnya, dan mereka pun pergi ke sungai. Di sungai, Bulu Pala’ dibawa ayahnya ke tempat yang agak dalam. Ayanhya menyuruh Bulu Pala’ untuk belajar menyelam. Ketika Bulu Pala’ sedang menyelam, ayahnya mengangkat batu yang besar kemudian menjatuhkannya ke arah Bulu Pala’ tadi berada. Lama sang ayah menunggu, yakin Bulu Pala’ telah tertimpa batu dan mati, dia beranjak hendak pulang. Namun tiba-tiba di bagian lain Bulu Pala’ muncul dari dalam air. Ternyata ketika menyelam, dia terbawa arus dasar yang tidak terlalu kuat namun telah menyelamatkannya.
Ayahnya dengan berat hati menanyakan keadaannya dan apakah dia tidak terkena batu yang tadi. Bulu Pala’ menjawab bahwa dia tidak apa-apa dan tanpa ada rasa curiga dia mengikuti ayahnya pulang.
Hari berikutnya Bulu Pala’ diajak ayahnya untuk menebang pohon di hutan. Ayahnya sudah sangat berpengalaman menebang pohon sehingga arah jatuhnya pohon telah diperkirakan tepat pada posisi dimana Bulu Pala’ disuruh berdiri. Ketika pohon tumbng dengan cepat Bulu Pala’ tidak sempat berpikir apa yang sedang terjadi namuin refleksnya yang sangat bagus menyelamatkannya. Dia masih sempat bergeser ke samping kanan dan terhindar hanya beberapa milimeter dari pohon yang tumbang itu. Kembali ayahnya menanyakan keadaannya. Bulu Pala’ menjawab bahwa dia tidak apa-apa dan tanpa ada rasa curiga dia mengikuti ayahnya pulang.
Bagi orang Toraya, kerbau adalah hewan peliharaan yang sangat penting. Keluarga Bulu Pala’ memiliki 10 ekor kerbau. Bulu Pala’ masih jarang diajak untuk menggembalakan kerbau yang banyak itu sehingga ketika suatu hari ayahnya mengajak untuk pergi menggembalakan kerbau, dia dengan senang hati menerima ajakan itu. ketika tiba di kandang kerbau, Bulu Pala’ disuruh berdiri dan menunggu di depan pintu kandang. Ketika pintu kandang dibuka, ayahnya mencambuki kerbau-kerbau itu sehingga mereka berlarian keluar kandang. Bulu Pala’ yang ada di depan kandang kembali diselamatkan oleh refleksnya yang luar biasa. Dengan refleks dia memanjat ke dinding kandang di sebelah kiri pintu sehingga dia selamat lagi.
Bulu Pala’ kemudian sadar bahwa ada yang janggal dari sikap ayahnya beberapa hari ini. Dia kemudian berkata kepada ayahnya:
“Ambe’, kenapa ambe’ ingin saya mati?ambe’ dalam bahasa Toraya berarti ayah.
“Kenapa kamu berkata begitu ?”tanya ayahnya kaget
“Saya berpikir kejadian di sungai, hutan, dan sekarang bukanlah kebetulan. Semuanya telah direncanakan, kalau keluarga memang sudah tidak menginginkan saya, tolong jangan bunuh saya. Biarkan saja saya pergi dari rumah untuk tinggal di tempat lain. Tetapi ayah tolong katakan kepada ibu dan kakak bahwa aku telah mati”
Ayahnya menangis, bagaimanapun Bulu Pala’ adalah anaknya dan dia masih punya rasa sayang kepadanya. Kata-kata Bulu Pala’ telah membuat rasa benci yang tadi ada berubah menjadi rasa sayang yang terwujud dalam air matanya. Dengan berat hati dia mengabulkan permohonan Bulu Pala’ dan mengantarnya ke sebuah goa di sebuah bukit batu. Sebelum pergi, ayahnya memberikan sebutir telur ayam kepadanya.
Bulu Pala’ sangat sulit untuk bertahan hidup pada hari-hari pertamanya di kediaman barunya. Makanannya adalah ubi mentah yang diperoleh dari kebun-kebun yang jaraknya berkilo-kilo dari goanya. Batang ubi itu kemudian ditanamnya di sekitar goanya dan dirawat dengan sangat intensif. Telur yang diberikan ayahnya diletakkan di dalam goa dan dierami dengan bantuan seresah-seresah serta rumput-rumput ilalang yang kering.
Suatu hari, telur itu akhirnya menetas. Bulu Pala’ merawat anak ayamnya dengan penuh kasih sayang. Wajar, hanya ayam itu makhluk hidup yang menjadi jawaban kerinduannya sebagai makhluk sosial untuk berinteraksi dengan sesamanya. Sekarang baginya sesama itu adalah anak ayam yang hanya bisa bercicit-cicit.
Bulu Pala’ memberikan makan kepada ayamnya berupa ubi mentah seperti yang dimakannya. Selain itu, si ayam mencari makanan lain seperti cacing atau serangga di sekitar goa tempat tinggal mereka. Ayam itu makin lama makin besar dan tumbuh menjadi ayam jantan yang sangat bagus. Orang Toraya ada yang memiliki keahlian menilai ayam jantan dari bentuk sisik-sisik di kakinya, bulu, dan jengger. Ayam Bulu Pala’ termasuk ayam yang dicari-cari para pencari ayam jago.
Bulu Pala’ sering menggendong ayamnya untuk jalan-jalan sampai beberapa kilometer dari goa tempat tinggalnya. Pada suatu hari mereka lewat di depan sebuah rumah. Penghuni rumah itu sangat tertarik melihat ayam Bulu Pala’. Dia kemudian menawar ayam tersebut dengan beberapa ikat padi. Bulu Pala’ menolak dan meminta dibarter dengan seekor anak babi. Orang itu berpikir agak lama kemudian akhirnya setuju.
Sekarang Bulu Pala’ hidup dengan peliharaan yang baru. Seekor babi. Babi tersebut dirawat Bulu Pala’ seperti dia merawat ayamnya dulu. Dalam beberapa bulan kemudian babi itu tumbuh menjadi babi yang sangat besar dan gemuk. Bulu Pala’ melihat pertumbuhan babinya yang sangat bagus dan kemudian merencanakan mendatangi orang yang dulu membarter babi tersebut dengan ayamnya.
Orang itu datang dan melihat babi Bulu Pala’ yang sangat besar dan gemuk. Dia menanyakan apa yang hendak dibarterkan Bulu Pala’ dengan babi itu. Bulu Pala’ meminta seekor anak kerbau. Orang itu berpikir dan berjanji mencari orang yang berminat. Beberapa hari kemudian beberapa orang telah datang dan melihat babi itu namun belum ada yang mau melakukan barter. Hingga akhirnya datang seorang bangsawan untuk melihat babi yang terkenal itu dan setuju menukarnya dengan seekor anak kerbau.
Demikianlah sekarang Bulu Pala’ sibuk memelihara kerbaunya. Kerbau itu dirawatnya sepeti peliharaan-peliharaannya terdahulu. Kerbau itu juga tumbuh menjadi kerbau yang besar, gagah dan berani. Kerbau yang demikian dihargai tinggi karena bisa dijadikan kerbau untuk aduan.
Bulu Pala’ memperlihatkan kerbau tersebut kepada bangsawan yang membarternya dengan babinya dulu. Bangsawan itu tertarik dan hendak membelinya namun Bulu Pala’ tidak bersedia. Karena gagal mendapatkan hak milik kerbau, sang bangsawan menawarkan agar Bulu Pala’ membawa kerbaunya untuk kegiatan ma’pasilaga (adu kerbau) pada upacara rambu solo’ (kematian) keluarga sang bangsawan. Bulu Pala’ setuju dengan bayaran seekor anak babi. Bangsawan itu setuju dan Bulu Pala’ kemudian ikut kegiatan ma’pasilaga.
Kegiatan ma’pasilaga biasanya menjadi ajang perjudian antar pemilik kerbau. Kali ini kerbau Bulu Pala’ berada di phak sang bangsawan. Kerbau Bulu Pala’ selama kegiatan ma’pasilaga tidak pernah kalah sehingga sang bangsawan memperoleh kemenangan besar. Saking senangnya, dia memberikan seekor anak kerbau kepada Bulu Pala’ padahal perjanjiannya hanya seekor anak babi.
Demikianlah kepercayaan terjalin antara Bulu Pala’ dan sang bangsawan. Kerbau Bulu Pala’ terkenal karena belum pernah terkalahkan sehingga mengundang semakin banyak minat penantang untuk melawannya. Selama Bulu Pala’ mengikutsertakan kerbaunya pada kegiatan ma’pasilaga, hanya 5 kali mereka mengalami kekalahan.
Sang bangsawan sangat senang dan Bulu Pala’ telah mendapat 5 ekor anak kerbau dan 30 ekor anak babi sebagai balas jasa akan keperkasaan kerbaunya. Ketika sang kerbau telah tua, Bulu Pala’ tidak menurunkannya lagi pada kegiatan-kegiatan ma’pasilaga. Sekarang dia fokus untuk merawat kerbau dan babinya.
Jumlah ternaknya makin lama makin bertambah karena beranak pinak dan dia kemudian terkenal sebagai orang yang memiliki banyak babi dan kerbau. Dia sekarang telah mendirikan sebuah Tongkonan (rumah adat Toraya) dan sebuah alang (lumbung padi). Di tongkonannya itu dia tinggal sendiri.
Suatu hari dia bertemu dengan ayahnya ketika sedang memasarkan ternaknya di pasar. Ayahnya tidak mengenalinya tetapi dia masih sangat mengenali ayahnya. Walaupun rambutnya telah putih semua, kulitnya telah berkeriput dan badannya tidak setegap dulu.
Bulu Pala’ tidak segera mendatangi ayahnya, namun dia menanyakan kepada orang-orang disekitarnya apakah mereka mengenal orangtua itu. Petugas pendataan ternak mengatakan bahwa orang itu adalah petugas kebersihan kandang kerbau di pasar hewan tersebut. Bulu Pala’ kaget bercampur sedih.
Bulu Pala’ mendatangi ayahnya di sudut sebuah kandang. Dia mengundang ayahnya untuk datang ke rumahnya, dia menawarkan pekerjaan yang lebih baik. Dan dia akan menunggu sampai semua pekerjaan ayahnya kelar baru mereka berangkat. Dia masih belum menyebutkan siapa dia sebenarnya.
Ketika mereka tiba di rumah Bulu Pala’, ditanyakannya keadaan keluarganya kepada sang ayah. Ayahnya mula-mula heran dengan pertanyaan itu, namun akhirnya dia mengatakan bahwa semua ternaknya kini telah habis dan isterinya sering sakit-sakitan. Anak pertamanya dijadikan budak oleh keluarga lain untuk membayar hutang keluarga akibat ayahnya kalah berjudi sedangkan anaknya yang kedua telah meniggal.
Bulu Pala’ tidak mampu menahan lagi air matanya. Dia menangis sangat lama. Orang tua di depannya tidak mengerti mengapa dia menangis. Setelah sekian waktu Bulu Pala’ akhirnya bisa mengendalikan perasaannya. Dia mengatakan kepada ayahnya siapa dia sebenarnya.
Sekarang ayahnya yang tidak bisa menguasai emosinya, dia menangis. Bulu Pala’ bertambah sedih melihat orang tuanya menangis. Penderitaannya yang terlihat dari keadaan fisiknya serta ceritanya membuat Bulu Pala’ tidak tega membuat orang yang masih sangat disayanginya itu menangis. Bulu Pala’ kemudian ikut menangis bersma ayahnya. Mereka berdua menangis lama....sangat lama.....tangisan mereka menyimpulkan kembali tali kasih sayang ayah anak yang hampir putus.

Bulu Pala’ megundang keluarganya untu pindah ke rumahnya. Utang judi ayahnya ditebus dan sekarang ikatan kakaknya sebagai budak diputuskannya. Dia merawat orang-orang yang sangat disayanginya terebut. Sekarang dia memenuhi ramalan sebagai anak yang berbakti bagi keluarganya.