TULANG DIDI'
Seorang ibu sedang menenun kain ketika seekor anjing datang dan menggigit tenunan itu. si ibu yang jengkel karena hasil kerja kerasnya selama berhari-hari dirusak langsung memanggil anaknya yang bernama Tulang Didi’. Si ibu sangat marah sehingga menyuruh Tulang Didi’ untuk membunuh anjing itu. Tulang Didi’ agak berat melakukannya karena anjing yang dimaksud adalah anjing kesayangan ayahnya yang sering menemaninya ketika sedang berburu. Meski berat hati, Tulang Didi’ tetap melaksanakan perintah ibunya. Anjing malang itupun dieksekusi di hutan belakang rumah.
Ketika sang ayah pulang dan memanggil-manggil anjing kesayangannya. Tulang Didi’ menjadi sangat takut. Ayahnya bertanya kepada ibunya dimana anjingnya. Ibunya menjawab bahwa si anjing telah dibunuh oleh Tulang Didi’. Mendengar itu, ayah Tulang Didi’ marah besar dan mencari Tulang Didi’. Tulang Didi’ yang tahu ayahnya marah besar langsung melarikan diri. Namun ayahnya yang sedang murka melihatnya dan kemudian mengejarnya.
Tulang Didi’ ditangkap ayahnya dan dengan penuh murka si ayah memukulnya seperti ketika Tulang Didi’ memukul anjingnya. Tulang Didi’ meninggal di tangan ayahnya sendiri karena seekor anjing.
Tulang Didi’ dikuburkan di sebuah bukit batu dan ayahnya meninggalkan sebutir telur ayam di tempat itu. Entah kenapa, telur itu dierami oleh seekor burung. Akhirnya telur itu menetas dan muncullah seekor ayam anak ayam yang lucu.
Ayam itu diberi makan oleh burung yang mengeraminya. Ayam itu bertumbuh menjadi ayam jantan yang gagah. Namun anehnya pertumbuhannya tidak berhenti dan sekarang ukurannya telah melewati ukuran ayam normal. Tidak seperti ayam yang lain, ayam jago yang dierami dan dibesarkan oleh burung ini meniru kebiasaan perawatnya. Dia lebih menyukai terbang dan ketika terbang dia bagaikan burung raksasa di udara.
Suatu sore, ayam Tulang Didi’ berkokok dan secara ajaib, tulang-tulang Tulang Didi’ berkumpul membentuk rangka manusia. Ayam itu berkokok lagi dan daging Tulang Didi’ muncul menutupi kerangka tulangnya. Ketika ayam itu berkokok untuk yang ketiga kalinya, Tulang Didi’ meniupkan nafasnya lagi. Napas pertamanya setelah kematiannya.
Tulang Didi’ hidup kembali ketika bulan purnama bersinar terang di langit. Tulang Didi’ dapat berkomunikasi dengan ayamnya secara telepati. Ayamnya bertanya kemana dia akan membawa Tulang Didi’. Tulang Didi’ melihat bulan di langit dan menyuruh ayamnya untuk terbang ke sana. Tulang Didi’ melakukan itu agar ketika orang-orang melihat bulan, mereka teringat kejadian yang pernah menimpanya dan berharap kejadian serupa tidak terulang lagi.
Ketika bulan purnama dan kita melihat ke langit, di sana akan terlihat Tulang Didi’ sedang bersandar pada sebuah pohon dan di sampingnya terdapat ayamnya.