Sabtu, 27 Februari 2010

PIXEL DUNIA

Speaker, monitor, CPU, stabiliser, televisi, dan lampu mengeluarkan suara khas masing-masing ketika aliran listrik terputus. Hitungan mikrodetik kemudian, semuanya gelap. Mati lampu. Gw yang dari tadi jarang mengedipkan kelopak mata karena menikmati dunia di dalam komputer akhirnya hanya bisa memasrahkan beberapa data yang belum ter-autosave. Hmmmm..... mudah-mudahan yang belum diautosave ga banyak-banyak amat.

Mati lampu menghentikan hampir 95% kegiatan malam hari gw. Terpaksa gw coba nikmati aja, apalagi selain mati lampu, hujan juga sedang turun, kombinasi yang bagus untuk berbaring di kasur.
Kasur di belakang kursi komputer gw berbunyi halus ketika udara bergerak meninggalkan rongga-rongga kecilnya yang menyempit akibat tekanan badan gw. Tarik selimut, peluk bantal guling, kemudian gw melamun. Lampu emergency di ruang tengah sudah dinyalakan, lumayan memberikan sedikit penerangan sekaligus menambah asik kegiatan melamun.

Sejam kemudian, belum ada tanda-tanda listrik bakal dialirkan lagi dari pusat. Lampu emergency di ruang tengah dimatikan, nampaknya sudah jam tidur. Gelap total. Menutup mata dan membuka mata, tidak ada bedanya sama sekali. Mungkin pupil gw sudah terbuka maksimal berusaha menangkap cahaya yang tidak dipancarkan sebuah sumber sekecil apapun.
Gelap total membuat gw merasa tidak nyaman, kegelapan seakan mempunyai massa yang menekan badan gw, tarikan napas menjadi lebih cepat dan semakin cepat. Tanpa ada suara orang yang terdengar, dan tidak ada benda yang terlihat, gw merasa 4 indera gw tidak berfungsi, hanya hidung yang berfungsi, setia bekerja menyuplai udara ke paru-paru.

Dengan mata tertutup sangat rapat, kedua tangan terkepal, gigi geraham atas dengan gigi geraham bawah saling menekan dengan kuatnya, bulatkan tekad, tekan kemalasan hingga ujung jempol kaki. Bergerak.....sekarang!!! Sebelum sempat memulai gerakan awal untuk menyalakan kembali lampu emergency di ruang tengah, alat-alat elektronik kembali terisi dengan tenaga listrik hampir tanpa terekam waktu. Leganya. Kelima indera kembali menjadi peka.

Merasakan keberadaan alam melalui indera adalah sebuah anugerah. Sebuah kerja keras dapat menajamkan indera dan merasakan getaran terkecil dari alam. Impuls sempurna untuk menyempurnakan manusia, serta menyelaraskan keberadaannya dengan alam. Tanpa salah satu indera peka, kita kehilangan begitu banyak hal penting dalam hidup.

Berlatih menajamkan indera adalah hal terpenting yang gw peroleh dari adanya Djarum Black blog contest yang aktif memicu kreatifitas anak muda dengan berbagai kegiatan seperti Autoblackthrough dan Djarum Black Motodify


Tajamkan indera, rasakan sensasi tiap pixel dunia.