Depan pertokoan di pusat kota. Seorang bapak yang duduk sambil melipat kedua tangannya di depan dada, terbangun kaget karena suara petir. Kembali dia mencoba tidur sambil bersandar di tembok toko. Badannya menggigil di balik rak serta kotak–kotak sepatu dan sendal yang tersusun agak rapi, bukan hanya karena hujan yang membuat udara menjadi dingin tetapi juga karena perutnya yang kosong. Pagi tadi dia berharap dapat makan dengan uang dari seorang pelanggan yang kemarin datang menitipkan sepatunya. Nampaknya harapan itu harus ditunda hingga besok, kalau semuanya masih bisa dipertahankannya; kesehatan dan bahkan nyawanya.
..........................................................................
Di sisi lain kota, seorang pemuda tampan kaget lalu terbangun ketika mendengar suara petir. Ternyata hujan turun lagi, semangat gw yang menggebu-gebu untuk bermain bola sejak satu jam yang lalu kini hilang bagai terlarut dalam air hujan dan dibawa entah kemana. Dengan malas, gw baring-baring lagi di kasur depan teve sambil nonton ulasan kegiatan Autoblackthrough yang disponsori oleh Djarum Black. Tiba-tiba gw teringat kaos kaki bola yang kemarin sore gw jemur. Segera gw berlari dengan kecepatan last spurt layaknya kuda pacuan, namun kaos kaki gw sudah terkulai lemas berkat air hujan yang numpang beristirahat di serat-seratnya. Sudahlah, pasrahin aja, hitung-hitung biar bau dan kotorannya agak berkurang.
Titik-titik hujan di atap, daun, tanah, batu, dan genangan air menciptakan bunyi khas yang seakan saling mengisi dan menciptakan sensasi suara tersendiri. Sejenak gw terbius mendengar perpaduan unik suara tersebut, sambil melihat hujan turun dengan derasnya di jalan, halaman dan atap, ha...atap? tiba-tiba gw teringat sesuatu. Sepatu bola yang sepertinya kemarin sepulang main bola gw jemur di atap. Segera gw mencari-cari di bagian atap tempat biasanya sepatu itu jemur, tidak ada. Panik, gw mulai berpikir tempat terakhir gw meletakkan sepati itu, akhirnya gw ingat kalo kemarin sepulang bermain bola sepatu itu gw titipkan di tukang jahit sepatu biar jahitan pada pinggirannya yang terbuka dijahit kembali. Ternyata gw juga sudah janji buat ngambil sepatunya jam 4 sore ini, tapi dengan kondisi hujan yang tidak memberi satu pixel titik kering di tanah seperti sekarang, mending gw ambilnya besok aja. Mending sekarang santai aja, bikin kopi, trus nongkrong menikmati pemandangan hujan.
Air memang pelarut universal, selain melarutkan harapan gw untuk bermain bola, harapan bapak penjahit sepatu untuk dapat makan juga seakan terikat dalam rantai H2O dan beralih kepada orang lain yang juga sedang berharap.
Kurang bijak menyepelekan berbagai interaksi kita dengan orang lain.