Bagaikan tangan-kanan Tuhan, dia ada semenjak penciptaan. Tidak menua walaupun semesta ini berpatokan pada usianya. Tidak sakit meskipun semua peristiwa disaksikannya dan ada padanya. Tidak pernah berhenti melangkah karena semua langkah berharap padanya. Jejak langkahnya selalu menjadi kenangan, tujuannya menjadi harapan.
Dia memberi ruangan untuk lahir, bertumbuh, dan mati, ruangan untuk segala emosi, ruangan untuk segala cerita, ruangan untuk segala kenangan. Dia tidak menampakkan diri, namun dikenang dalam berbagai hal.
Semua hal tersebut muncul dalam pikiran pada suatu sore, sambil minum kopi dan ditemani rokok Djarum Black, berpikir tentang WAKTU.
Otak mencoba berpikir kreativ seperti para peserta Blackinnovationawards dan muncullah kata-kata:
aku suka pagi........
kunikmati pagi dengan pikiran dan tubuh yang segar
terima kasih malam........
telah memberikan istirahat yang cukup
terimakasih siang....
telah memberikan rasa lelah
terimakasih matahari.....
telah memberikan pagi, siang, dan malam
Syukur kepada Pencipta semesta.