Jumat, 15 Januari 2010

RUTINITAS

Saya benci rutinitas; rutinitas sekolah, rutinitas kuliah, rutinitas bangun pagi, rutinitas kerja. Kehidupan serba tidak terstruktur lebih saya nikmati. Inilah yang menyebakan saya memilih untuk tidak memprioritaskan untuk menjadi pegawai kantoran. Dengan kehidupan yang sangat terstruktur dari bangun pagi, sarapan, berangkat kerja, kerja dari jam setengah 8 sampai jam 4 sore, pulang, istirahat. Hari baru hanya berarti berubahnya tanggal di kalender, cuaca, orang-orang yang ditemui di jalan, suasana hati, jumlah sapaan, jenis sapaan.

Setelah menjalani kehidupan tidak terstruktur yang ingin menjauhkan diri dari rutinitas, bangun sesuka hati, melakukan hal-hal menyenangkan, berpikir mengenai hal-hal yang menarik, saya kemudian sadar semuanya kembali ke rutinitas yang semula dihindari. Semuanya akhirnya mengakibatkan kebosanan. Pada akhirnya akan timbul rasa tanggung jawab dalam diri. Tanggung jawab untuk keluarga terlebih bagi diri sendiri. Rutinitas mungkin harusnya tidak dihindari melainkan dijalankan akan tetapi carilah rutinitas yang membuat kita tidak menjadi seakan terpenjara. Pemain sepakbola menjadikan olahraga yang adalah hobi untuk menghasilkan uang. Mereka kadang mengalami kebosanan akan tetapi semua itu akan segera hilang karena mereka mencintai sepakbola dengan sepenuh hati. Rutinitas berpikir kreatif seperti para peserta
Blackinnovationawards, dan Djarum Black Motodify patut dicontoh.
Mencintai rutinitas yang dijalani mungkin adalah sesuatu yang bisa dilakukan untuk menjadikan diri kita menjadi lebih baik.