Seekor
anjing kecil menyalak cempreng berusaha menakut-nakuti anak kecil yang mencoba
mengganggunya. Usaha yang sia-sia karena anak itu tidak takut malah semakin
bersemangat untuk melaksanakan niatnya. Anjing kampung kecil kurus berbulu
cokelat tua itu kemudian memilih menghindar dan mencari tempat persembunyian.
Pilihannya tepat untuk
bersembunyi di celah sempit antara dua rumah, celah yang juga berfungsi sebagai
tempat menyimpan beberapa perabotan yang tidak dipakai. Di celah itu, dengan
badannya yang kurus dia mampu bersembunyi dengan leluasa di perabotan dan
kardus-kardus.
Lapar membuat anjing kecil
malang itu kembali menyalak kecil dan keluar dari tempat persembunyiannya.
Seorang Pemuda yang tinggal di salah satu dari kedua rumah itu memperhatikan
dan mengambil telur matang kemudian mengupasnya lalu menyodorkannya kepada anjing
kecil. Anjing itu menjauh, masih trauma dengan manusia. Sang Pemuda
menyadarinya dan membiarkan telur itu tergeletak di tanah. Kemudian
meninggalkan anjing kecil agar bisa mengisi perutnya tanpa perasaan takut.
Keesokan harinya Pemuda itu
kembali menyodorkan ikan goreng untuk dijadikan santapan anjing kecil. Seperti
biasa, dia hanya meninggalkan ikan itu dekat persembunyian anjing kecil. Beberapa
hari kemudian, anjing kecil sudah berani keluar dari persembunyiannya tetapi
tetap belum percaya kepada manusia.
Pemuda sedang mencuci
pakaiannya ketika anjing kecil melompat-lompat ambil menyalak kecil di
sebelahnya. Pemuda itu menjulurkan tangan hendak mengelus kepala anjing kecil,
namun anjing itu kemudian menjauh. Untuk kedua kalinya anjing kecil itu datang,
melompat-lompat kecil, ekor dikibas-kibaskan dan salakan kecilnya menandakan
dia sudah mulai mempercayai Pemuda itu. Tangan Pemuda itu terjulur, dengan
sedikit hentakan, dia berhasil mengelus kepala anjing kecil dan pada saat itu
sebuah ikatan antara hewan dengan manusia terbentuk.
Anjing kecil kurus berwarna
cokelat itu kemudian menjadi bagian dari keluarga si Pemuda. Namun ikatan
antara anjing kecil dengan Pemuda lebih kuat daripada anggota keluarga yang
lain dari Pemuda itu.
Anjing kecil terus bertumbuh
dan selalu setia menemani Pemuda itu. Anjing itu terus setia menunggu di luar
warnet, meski sedang turun hujan ketika Pemuda sedang menghabiskan waktunya di
dunia maya. Anjing itu berlari menjemput ketika mendengar suara knalpot motor
yang dikenakan Pemuda terdengar sehabis pulang latihan sepakbola.
Anjing itu akan tidur di
samping Pemuda ketika Pemuda itu ketiduran di kasur depan TV. Anjing itu juga
akan membangunkkannya di pagi hari dengan suara tingginya khasnya. Anjing itu
juga punya kebiasaan bersin di pagi hari, gonggongannya yang khas pada malam
hari serta kebiasaannya menguap. Karena kebiasaannya yang aneh itu, anjing itu
kemudian diberi nama Oon.
Pemuda selalu menyempatkan
untuk berbincang dengan anjingnya itu. Mengelus rambutnya yang kaku,
mempermainkan muka Oon sehingga tampangnya semakin oon. Oon membalasnya dengan
tidur malas-malasan di bagian rumah yang hendak disapu Pemuda ketika pagi hari.
Pemuda tidak pernah ingin memukul anjingnya terpaksa Oon diangkatnya kemudian
dipindahkan ke bagian yang lain. Oon akan segera kembali dan mengganggu kerja Pemuda
sebelum Pemuda itu menggunakan sapu untuk mengelus punggungnya. Setelah merasa
puas, Oon dengan sukarela akan membiarkan Pemuda kembali bekerja.
Ketika masa kawin datang, Oon
seringkali menghilang dan baru kembali ke rumah pada saat makan malam. Setelah
itu dia menghilang lagi. Paling parah adalah ketika Oon menghilangs selama dua
hari satu malam. Orang rumah khawatir Oon dicuri karena banyak kejadian serupa
terjadi di daerah sekitar. Untungnya malam harinya Oon pulang dengan luka di
kaki kiri. Setelah menyikat habis jatah makanannya, Oon tidur pulas di samping Pemuda
di depan TV.
Karena hobinya menghilang, Oon
tidak boleh keluar rumah pada malam hari. Suatu malam, ketika selesai makan.
Oon lupa untuk dimasukkan ke dalam rumah. Sejak saat itu, Oon tidak pernah
kelihatan lagi.
Pemuda sangat sedih, mengenang
anjing kecil yang dikenal dan setia menjaganya semenjak anjing itu masih kecil.
Hatinya hancur membayangkan anjing yang disayanginya mengalami kondisi
penyiksaan sebelum dibantai. Lebih hancur lagi hatinya ketika bangun di pagi
hari, sudah tidak ada Oon di sampingnya. Tidak ada suara anjing bersin, tidak
ada yang menarik selimutnya, tidak ada yang mengganggunya ketika menyapu ruang
depan, tidak ada yang menjemputnya sepulang bermain bola, tidak ada teman yang
diajaknya bercanda. Pemuda itu sekarang tidak tidur di depan TV lagi, karena
Oon sudah tidak ada di situ menemaninya.
Mengapa orang-orang itu tega
membunuh kesetiaan?
Pemuda masih merasakan kuatnya
ikatan dengan Oon. Namun yang pasti, tidak akan ada yang membangunakannya lagi
di pagi hari. Kali ini dia harus bangun sendiri.
-151a011-