Saya kemudian tertarik untuk membandingkan antara keramahan masyarakat Jawa Tengah, khususnya Salatiga dengan masyarakat daerah saya, sebuah kota kecil di Sulawesi.
Salatiga adalah sebuah kota kecil yang pernah saya tinggali selama kurang lebih 8 tahun. Melewati jalan, gang, lorong di kota ini selalu membuat saya merasa nyaman. Dengan mengucapkan kata “permisi”, anda telah berlaku sopan terhadap orang yang anda temui di jalan dan sebaliknya anda akan memperoleh respek dari orang tersebut. Respek dari lawan bicara tersebut seperti layaknya “tiket” untuk dapat berjalan nyaman di daerah tersebut. Keramahan tersebut selalu membuat saya rindu untuk berada kembali di Salatiga.
Berbeda dengan sapaan “permisi” di Salatiga, kata sapa yang umum saya dengar digunakan di kota kelahiran saya adalah “mau kemana?”. Sayangnya ucapan ini ditabukan oleh para penjudi sabung ayam. Ketika para penjudi hendak berangkat ke lokasi sabung ayam, mereka akan sangat marah jika seseorang yang mereka temui di jalan bertanya “mau kemana?”. Menurut mereka, pertanyaan tersebut mendatangkan kesialan. Bukan hanya itu, masih banyak hal lain yang ditabukan para penjudi tersebut seperti mereka tidak boleh berbalik arah dan kembali mengambil sesuatu yang tertinggal atau juga pantang bertemu banci. Mungkin pantangan seperti ini yang banyak mempengaruhi sehingga sapaan yang mengakrabkan seperti yang saya alami di Salatiga jarang ditemui di daerah saya.
Pantangan untuk menebang pohon-pohon besar menurut saya penting untuk sebuah konservasi akan tetapi beberapa pantangan yang lain nampaknya menghambat terjadinya perubahan ke arah yang lebih baik. Seperti halnya dalam kreativitas, seorang anak yang selalu dilarang, akan berbeda perkembangan kreativitasnya dengan seorang anak yang diberi kebebasan berkreasi. Kebebasan berkreasi yang diwadahi seperti Autoblackthrough dan Djarum Black Motodify akan menuntun perkembangan modfikasi automotif di dalam negeri sehingga dapat berimbas kepada kemampuan kita bersaing di kompetisi serupa di luar negeri.