Kamis, 11 Juni 2009

TURUN SATU NAIK LIMA (SEKOLAH BERNAMA BIS)

Bis Semarang-Solo bergerak dari terminal. Jumlah penumpangnya tidak memenuhi kursi penumpang yang ada. Semakin jauh meninggalkan terminal, penumpang mulai memenuhi kursi-kursi penumpang hingga akhirnya semua kursi terisi penuh.

Kernet yang tak berperasaan tetap saja mengangkut penumpang yang kemudian berdiri di dalam bis. Saya yang adalah korban penurunan penumpang di tengah jalan (dioper) termasuk yang berdiri di dalam bis ini. Semakin lama, penumpang yang berdiri semakin bertambah dan semakin menumpuk dan berdesakan satu sama lain. Tiba di depan sebuah industri tekstil, tenyata banyak penumpang yang adalah ibu-ibu karyawan perusahaan tekstil. Mereka melihat bis yang sudah hampir penuh namun tetap nekat untuk naik sampai-sampai tidak ada celah lagi yang tersisa dalam bis untuk sekedar mengangkat lutut. Semboyan perjuangan yang terkenal “mati satu tumbuh seribu” betul-betul dihayati sopir dan kernetnya. “turun satu naik lima” itulah yang mereka lakukan

Kesopanan nampaknya benar-benar teruji di dalam bis ini. Seorang teman cowok langsung balik badan menghadap ke arahku ketika di depannya berdiri seorang cewek. Iman kadang kuat tapi si “imron” yang selalu tidak kuat. Jadilah kami saling pandang seperti sepasangan gay.

Seorang cewek yang berada di belakangku nampak setengah mati mempertahankan posisi berdirinya sambil melindungi bagian dadanya. Ketika kecepatan mobil berkurang mendadak sehingga penumpang terdorong ke depan, di punggungku kurasakan tekanan telapak tangan sang cewek. Nampaknya dia berusaha menghindari adanya kontak bagian dadanya dengan punggungku. Dia mengeluarkan tenaga dua kali lipat untuk berdiri sambil menjaga diri dibandingkan cowok sepertiku yang tidak perlu mengkhawatirkan dada dijamah orang lain.

Kernet yang super nampaknya mulai beraksi dengan pertunjukan gratisnya. Sambil berpegangan di setiap celah bis dan pegangan penumpang, dia menagih ongkos dari para penumpang. Entah bagaimana dia bisa bergerak dari bagian depan hingga belakang bis dalam kondisi yang seperti itu. Ajaib.

Bukan hanya manusia yang ingin segera keluar dari bis ini, udara yang ada juga mungkin jera untuk mampir lagi dalam keadaan serupa. Mereka masuk ke bis untuk menghindari asap-asap kendaraan. Tapi di dalam bis malah menemukan keadaan yang lebih parah. Udara terpaksa menampung semua aroma yang ada, dari yang menyegarkan (jarang) sampai yang huekkkssss.
Pelajaran PPKn yang diperoleh selama masa pendidikan nampaknya tidak diamalkan disini. Beberapa orang pria muda yang duduk di kursi nampak tidak acuh dengan ibu-ibu yang berdiri. Sudah biasa mungkin atau naluri gotong royong masyarakat Indonesia yang terkenal telah pudar atau hilang. Atau mungkin mereka merasa sebagai wanita. Kemungkinan terakhir yang paling mungkin.

Perbincangan tidak pernah berhenti dalam bis dan dari sebuah percakapan terungkap bahwa seorang ibu karyawan industri tekstil ternyata tinggal di Klaten. Wowww.. daerah yang jaraknya sekitar 3 jam perjalanan naik bis dari tempatnya bekerja. Jika ibu itu bekerja jam 8 pagi, bisa diperkirakan jam berapa dia mulai bangun dan bersiap berangkat kerja lagi. Luar biasa ibu yang satu ini.

Seorang pria muda yang berdiri dekat pintu nampak sedang asik dengan ponselnya. Nampaknya dia sedang menikmati lagu-lagu yang diputar dari ponse itu. Tidak disangka ponse yang sepuluh tahun lalu menjadi barang yang sangat mahal sekarang telah menjadi salah satu kebutuhan dan mampu dimiliki semua kalangan masyarakat. Seorang penjual mi ayam yang sering lewat di depan kontrakanku juga sekarang telah membeli HP. Kemungkinan semua penumpang bis ini juga telah memilki benda komunikasi tersebut.

Berdiri dengan badan, kaki yang tidak bisa bergerak, tangan yang berpegangan menjaga posisi tubuh dan kepala yang lebih baik hanya menatap satu sudut karena di sudut-sudut lain yang ada hanya muka atau rambut orang yang menutupi pandangan. Jadinya hanya mata, yang tetap bergerak semestinya. Diiringi suara kendaraan di jalanan dan percakapan di bis serta aroma yang kaya improvisasi aku menikmati perjalanan ini.

Turun. Tindakan menuju pintu dan keluar dari bis adalah kata sederhana. Namun dalam keadaan sekarang sangat susah untuk dilakukan. Untuk dapat bergerak meliuk-liuk melewati satu penumpang, kelincahan Ronaldo di lapangan takkan berguna di sini. Dengan mengucapkan permisi dan mendorong tubuh dengan paksa serta dengan melalui beberapa hadangan berupa kardus dan tas-tas akhirnya pintu terlihat. Melompat dari bis adalah tindakan terhebat yang kulaukan hari ini. Hebat.